Langsung ke konten utama

Orang Indonesia Harus Tau

Masyarakat yang berasal dari luar pulau Lombok akan merasa asing dan bingung tentang upaca nyongkolan. Namun tidak demikian dengan masyarakat asli Suku Sasak. Bagi masyarakat Sasak, nyongkolan adalah sebuah upacara unik dan telah menjadi teradisi secara turun temurun dalam menyambut sebuah pernikahan. Upacara atau kegiatan nyongkolan sekarang sudah sering kita jumpai setiap hari, namun yang paling sering ditemui adalah jika akhir pekan tiba. Nyongkolan sendiri berasal dari kata “Sokong” yang berarti mendorong dari belakang atau bisa diartikan menggiring (Mengiring). dan nyongkolan adalah prosesesi adat yang dijalankan apabila adanya proses pernikahan antara lelaki (Terune) dan perempuan (Dedare) didalam suku Sasak Lombok. Biasanya nyongkolan akan dilaksanakan setelah proses “Begawe” (Pesta perayaan setelah akad nikah), untuk waktu, bisa dipikirkan oleh kedua belah pihak. Ada yang meringkas dalam satu waktu adapula yang melakukan nyongkolan seminngu atau lebih setelah proses akad nikah dan begawe dilaksanakan.








Disaat pelaksanaan nyongkolan ini, arak-arakan pasangan pengantin didampingi oleh dedare-dedare dan terune-terune sasak, juga ditemani oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, atau pemuka adat beserta sanak saudara berjalan mengiri pengantin. Peserta iring-iringan tersebut harus mengenakan pakaian adat suku sasak, untuk peserta wanita menggunakan baju Lambung atau Kebaya, kereng nine atau kain songket, sanggul dan aksesoris lainnya. Bagi pengiring laki-laki menggunakan baju model jas berwarna hitam (Godek Nongqe), kereng selewok koto ( sarung tenun panjang ), dan sapuk.Pada foto di atas terlihat suasana sore hari di Desa Bujak, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah, yang sedang menjalankan ritual tradisi sasak yaitu nyongkolan, pada hari ahad, 5 November 2017. Terlihat anak kecil sampai remaja, dewasa dan tak terkecuali seorang pengantin perempuan berjalan beriringan dengan rapi menuju rumah pengantin perempuan. Dengan baju adat yang berbagai rupa, kedua mempelai diiringi oleh sanak saudara, tetangga, masyarakat dan juga gendang beleq yang menjadi pelengkap ritual ini. Ritual ini dilaksanaakan agar keluarga pengantin laki-laki bisa berkenalan lansung dengan keluarga pengantin perempuan  sekaligus bentuk permintaan maaf keluarga pengantin laki-laki yang telah mbait (mengambil) anak perempuannya dan juga  bersilaturrahmi. 

Komentar

  1. Informasi yg sangat menarik. Trimkasih banyak miinnn

    BalasHapus
  2. Wao kak, lanjutin enggeh, bagus bngt, sangat membantu untuk memberikan informasi ke masyarakat luas tentang budaya lombok

    BalasHapus
  3. Bangga jadi orang lombok..kembangkan

    BalasHapus
  4. Ohh.. begitu ya.. terimakasih informasinya pit... semoga bermanfaat

    BalasHapus
  5. Mbak aku mau tanya, apa bedanya kecimol dengan presaean? Terima kasih

    BalasHapus
  6. Orang Indonesia harus tau budaya kita sangat indah..

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Semoga dibaca oleh semua orang, agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap adat suku Sasak

    BalasHapus
  9. sangat menambah wawasan,terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar